Agama
Masyarakat rumpun Dayak Ngaju dan
rumpun Dayak Ot Danum menganut agama leluhur yang diberi nama oleh
Tjilik Riwut sebagai agama
Kaharingan
yang memiliki ciri khas adanya pembakaran tulang dalam ritual
penguburan. Sedangkan agama asli rumpun Dayak Banuaka tidak mengenal
adanya pembakaran tulang jenazah. Bahkan agama leluhur masyarakat Dayak
Meratus di Kalimantan Selatan lebih menekankan ritual dalam kehidupan
terutama upacara/ritual pertanian maupun pesta panen yang sering
dinamakan sebagai agama
Balian.
Agama-agama asli suku-suku Dayak sekarang ini kian lama kian
ditinggalkan. Sejak abad pertama Masehi, agama Hindu mulai memasuki
Kalimantan dengan ditemukannya
Candi Agung sebuah peninggalan agama Hindu di
Amuntai,
Kalimantan Selatan, selanjutnya berdirilah kerajaan-kerajaan
Hindu-Buddha. Semenjak abad ke-4 masyarakat Kalimantan memasuki era
sejarah yang ditandai dengan ditemukannya prasasti peninggalan dari
Kerajaan Kutai yang beragama Hindu di Kalimantan Timur.
[43] Penemuan arca-arca Buddha yang merupakan peninggalan Kerajaan Brunei kuno, Kerajaan Sribangun (di
Kota Bangun, Kutai Kartanegara)
[44] dan
Kerajaan Wijayapura. Hal ini menunjukkan munculnya pengaruh hukum agama Hindu-Buddha dan asimilasi dengan budaya
India
yang menandai kemunculan masyarakat multietnis yang pertama kali di
Kalimantan. Dengan menyebarnya agama Islam sejak abad ke-7 mencapai
puncaknya di awal abad ke-16, masyarakat kerajaan-kerajaan Hindu menjadi
pemeluk-pemeluk Islam yang menandai kepunahan agama Hindu dan Buddha di
Kalimantan. Sejak itu mulai muncul
hukum adat Melayu/Banjar yang dipengaruhi oleh sebagian
hukum agama Islam
(seperti budaya makanan, budaya berpakaian, budaya bersuci), namun
umumnya masyarakat Dayak di pedalaman tetap memegang teguh pada hukum
adat/kepercayaan Kaharingan. Sebagian besar masyarakat Dayak yang
sebelumnya beragama Kaharingan kini memilih
Kekristenan,
namun kurang dari 10% yang masih mempertahankan agama Kaharingan. Agama
Kaharingan sendiri telah digabungkan ke dalam kelompok agama Hindu
(baca: Hindu Bali) sehingga mendapat sebutan agama Hindu Kaharingan.
Namun ada pula sebagian kecil masyarakat Dayak kini mengkonversi
agamanya dari agama Kaharingan menjadi agama Buddha (Buddha versi
Tionghoa), yang pada mulanya muncul karena adanya perkawinan antarsuku
dengan etnis
Tionghoa yang beragama
Buddha, kemudian semakin meluas disebarkan oleh para
Biksu di kalangan masyarakat Dayak misalnya terdapat pada masyarakat Dayak yang tinggal di kecamatan
Halong di Kalimantan Selatan. Di Kalimantan Barat, agama Kristen
diklaim
sebagai agama orang Dayak (sehingga Dayak Muslim Kalbar terpaksa
membentuk Dewan Adat Dayak Muslim tersendiri), tetapi hal ini tidak
berlaku di propinsi lainnya sebab orang Dayak juga banyak yang memeluk
agama-agama selain Kristen misalnya ada orang Dayak yang sebelumnya
beragama Kaharingan kemudian masuk Islam namun tetap menyebut dirinya
sebagai suku Dayak. Agama sejati orang Dayak adalah Kaharingan. Di
wilayah perkampungan-perkampungan Dayak yang masih beragama Kaharingan
berlaku hukum adat Dayak, namun tidak semua daerah di Kalimantan tunduk
kepada hukum adat Dayak, kebanyakan kota-kota di pesisir Kalimantan dan
pusat-pusat kerajaan Islam, masyarakatnya tunduk kepada hukum adat
Melayu/Banjar seperti suku-suku Melayu-Senganan, Kedayan, Banjar,
Bakumpai, Kutai, Paser, Berau, Tidung, dan Bulungan. Bahkan di wilayah
perkampungan-perkampungan Dayak yang telah sangat lama berada dalam
pengaruh agama Kristen yang kuat kemungkinan tidak berlaku hukum adat
Dayak/Kaharingan. Di masa kolonial, orang-orang
bumiputera
Kristen dan orang Dayak Kristen di perkotaan disamakan kedudukannya
dengan orang Eropa dan tunduk kepada hukum golongan Eropa. Belakangan
penyebaran agama Nasrani mampu menjangkau daerah-daerah Dayak terletak
sangat jauh di pedalaman sehingga agama Nasrani dianut oleh hampir semua
penduduk pedalaman dan diklaim sebagai agama orang Dayak.
Jika kita melihat sejarah pulau Borneo dari awal. Orang-orang dari Sriwijaya, orang
Melayu yang mula-mula migrasi ke Kalimantan. Etnis Tionghoa
Hui Muslim
Hanafi menetap di Sambas sejak tahun 1407, karena pada masa
Dinasti Ming, bandar Sambas menjadi pelabuhan transit pada jalur perjalanan dari
Champa ke
Maynila, Kiu kieng (Palembang) maupun ke
Majapahit.
[45] Banyak penjabat Dinasti Ming adalah orang
Hui Muslim yang memiliki pengetahuan bahasa-bahasa asing misalnya
bahasa Arab.
[46]
Laporan pedagang-pedagang Tionghoa pada masa Dinasti Ming yang
mengunjungi Banjarmasin pada awal abad ke-16 mereka sangat khawatir
mengenai aksi pemotongan kepala yang dilakukan orang-orang Biaju di saat
para pedagang sedang tertidur di atas kapal. Agamawan Nasrani dan
penjelajah Eropa yang tidak menetap telah datang di Kalimantan pada abad
ke-14 dan semakin menonjol di awal abad ke-17 dengan kedatangan para
pedagang Eropa. Upaya-upaya penyebaran agama Nasrani selalu mengalami
kegagalan, karena pada dasarnya pada masa itu masyarakat Dayak memegang
teguh kepercayaan leluhur (Kaharingan) dan curiga kepada orang asing,
seringkali orang-orang asing terbunuh. Penduduk pesisir juga sangat
sensitif terhadap orang asing karena takut terhadap serangan bajak laut
dan kerajaan asing dari luar pulau yang hendak menjajah mereka.
Penghancuran keraton Banjar di Kuin tahun 1612 oleh VOC Belanda dan
serangan Mataram atas Sukadana tahun 1622 dan potensi serangan Makassar
sangat mempengaruhi kerajaan-kerajaan di Kalimantan. Sekitar tahun 1787,
Belanda memperoleh sebagian besar Kalimantan dari Kesultanan Banjar dan
Banten. Sekitar tahun 1835 barulah misionaris Kristen mulai
beraktifitas secara leluasa di wilayah-wilayah pemerintahan Hindia
Belanda yang berdekatan dengan negara Kesultanan Banjar. Pada tanggal
26 Juni 1835, Barnstein,
penginjil
pertama Kalimantan tiba di Banjarmasin dan mulai menyebarkan agama
Kristen. Pemerintah lokal Hindia Belanda malahan merintangi upaya-upaya
misionaris.
[47][48][49][50][51]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar